Jelas Bikin Cerdas

Cari Ikan Tongkol, 2 Nelayan Hilang

Oleh: Ari  |   

Balicitizen.net, Denpasar - Dua nelayan yang hendak mencari ikan tongkol hilang saat melaut dari Perairan Kelan hendak menuju sebelah selatan Tanah Lot, Miggu (4/10/2020). Hingga kini keduanya belum ditemukan.

Pencarian oleh tim SAR gabungan memasuki hari ke dua, setelah kemarin malam 2 buah jukung nelayan setempat bergerak melakukan penyisiran. "Namun hasilnya nihil," jelas Gede Darmada, selaku Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali).

Diketahui identitas kedua nelayan tersebut bernama Heri Widodo (38) dan Diki (21) yang tinggal di Jalan Kecubung Lingkungan Kelan Abian Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Menurut informasi dari pemilik jukung, Nyoman Sudiarta bahwa ciri-ciri jukung yang hilang bertuliskan ARMADA berwarna putih dengan panjang 11 meter dan lebar 120 cm, serta menempel 2 buah mesin.

Hari ini tim SAR gabungan mengerahkan 1 unit Rigid Inflatable Boat (RIB) melakukan pencarian di sekitar perairan yang biasa dilalui korban saat melaut. Darmada memberikan keterangan terkait SRU yang terlibat diantaranya Basarnas Bali, Dit Polair Polda Bali, Dit Samapta Polda Bali, Pos AL Badung, Pos Polair Kedonganan, SAI Rescue Relindo, Senkom, kelompok nelayan setempat dan pihak keluarga.

Fokus pencarian pada operasi SAR hari kedua berada di sekitar perairan Kelan-Tanah Lot. Luas areanya untuk penyisiran RIB kurang lebih 17.4 NM², dengan metode pencarian pararel search. Sementara luas area penyisiran SRU yang menggunakan rubber boat sekitar 10.8 NM². Di tempat berbeda, SRU darat posisi berada di Kelan untuk berkoordinasi dengan nelayan setempat dan selanjutnya melakukan pemantauan ke arah barat dan selatan. "Hasil koordinasi tadi dengan kelompok nelayan Kelan, akan ada upaya pencarian dari mereka nanti pada pukul 09.00 Wita," ujar Darmada.

Menurut Darmada kondisi cuca hari-hari terakhir ini memang tidak baik. Bahkan BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak 3 Oktober 2020, dimana hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya.

"Kondisi tingginya curah hujan diperkirakan akan terjadi hingga bulan Oktober, maka kami menghimbau agar berhati-hati saat beraktifitas di perairan, dan selalu lengkapi alat keselamatan diri seperti misalnya berupa life jaket atau media pelampung," tutup Darmada.

Berita Terkait

balicitizen.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE